Album Paquita bertajuk Asa, mengingatkan saya pada Jingga, band one hits wonder, Tentang Aku, duo Fe dan Therry.
Kesulitan musisi mengaransemen lagu yang pernah hits di jamannya, bisa dilewati Paquita dengan mulus. Beberapa lagu bisa dilepaskan karakternya dari musisi yang dulu mempopulerkan lagu tersebut, salah satunya karena suara Paquita yang khas.
Salut atas kerja keras Shanda Drew dan Aqi Alexa yang mengerjakan aransemen dan produksi album ini. Garapannya rinci, ambience dalam setiap lagu kuat.
Pemilihan lagunya juga pas dengan pembawaan karakter Paquita yang tegas dan santai, dari keseluruhan saya sangat suka Melati Putihnya GSP. Tika Bisono berhasil mempopulerkan lagu ini dengan cantiknya, ternyata Paquita tidak kalah cantiknya, nuansa triphop plus sentuhan etnik kental di lagu ini.
Nuansa ala Portishead, sampling manis porsi tepat, membuat lagu-lagu di album ini tidak kalah manis dengan nuansa dreampop sedikit dramatis.
Album ini layak simak, hampir menuju nilai yang sangat memuaskan, terlebih karena keterlibatan Indra Lesmana di album Asa ini. Album ini membunuh stigma awam, kalau musik elektro itu njelimet dan tidak ramah telinga.
Menurut saya elektro bukan musik musiman yang lekang waktu.
Salam sejuk untuk Satriawan Wiguna, dengan cantiknya memberi warna unik di Dalam Kelembutan Pagi. Melodi dari piano elektriknya patut diacungi 4 jempol.
Terimakasih Paquita Widjaya, masih banyak Asa yang tersisa.
Monday, 30 April 2012
Friday, 27 April 2012
Indonesia dan Musisi Wanita Seksi
Sedikit sekali musisi wanita Indonesia yang membenamkan diri
di jajaran neo soul music.
Neo soul adalah genre musik yang lahir sejak tahun
1900-an. Sudah lama sekali, Campuran antara jazz, funk, R&B kontemporer. Unsur
African music kadang jadi nuansa para musisi neo soul.
Mengapa disebut soul?
Para musisi kulit hitam menyanyi dari hati karena di masa itu ada beberapa kelompok musisi merasa dirinya tertindas dan bermusik sebagai bentuk pemberontakan. Mereka bermusik di gereja (gospel music) ataupun saat senggang. Sampai suatu saat neo soul amat digemari, Motown Records salah satu record yang mempopulerkan neo soul.
India Arie, Erykah Badu, Lauryn Hill, Alicia Keys, Mary J.
Blige, Amel Larrieux, Lisa Stanfields, menurut saya adalah contoh musisi neo
soul wanita yang super kece. Begitupun Adele, saya sangat setuju kalau dia masuk ke genre neo soul melihat pembawaan dia di setiap
lagunya. Amy Winehouse pun belakangan ini mulai nyemplung ke neo soul, sebelum ia meninggal tentunya. Corinne Bailey Rae, salah satu musisi neo soul favorit saya di kalangan musisi cewek muda nan kece.
Nah kalau di Indonesia sendiri kita punya ga sih? Sebut saja
Rieka Roeslan, Moluccas dan musisi yang diakui memiliki kekuatan karisma di
tiap penampilan mereka. Bernyanyi dengan performa optimal serta liukan
suara menjura.
Di era kekinian ada Parkdrive yang memiliki vocalis hebat,
walaupun sudah sempat berganti dua kali, secara kebetulan vocalis
mereka mempunyai warna neo soul yang
kuat. Parkrive with Mikuni.
Parkdrive with Olivia Latuputty.
Ada pula sebuah band yang sudah cukup lama malang melintang
di berbagai gigs,
Bonita and The Husband, kuartet music ciamik, gabungan
antara folk, soul dan R&B:
Solois wanita yang mempunyai teknik improvisasi yang kuat di
setiap performanya, cocok dijuluki the next Erikah Badu Indonesia. Simak saja
Musik Sepi dari Jemima:
Dan yang terakhir ini adalah seorang solois yang tidak asing
dengan dunia panggung walau album pertamanya belum rampung. Saya giring kalian
menuju Soundcloudnya yang terlalu keren untuk seorang musisi muda. Dia punya
rumus sendiri dengan suara empuknya, rumus liuk kali rasa sama dengan
fantastis.Grace Sahertian.
Musisi wanita Indonesia dengan berbagai karakter bermunculan. Dan neo soul bisa jadi semacam jamur yang akan terus menyebar dan menjadi marak. Semoga saja.
Tuesday, 24 April 2012
Tulus Bukan Sekedar Ikhlas
Tulus seringkali disebut-sebut sebagai perilaku yang terpuji. Jadi tidak salah bila segudang pujian akan saya lempar-lempar di depan mukanya yang kocak ini, muka seorang Tulus. Singer songwriter baru yang begitu saja datang, muncul, berproses dan membungkus karyanya pada sekeping cd. Begitulah penuturan Ari Renaldi, musisi jazz gaek asal Bandung yang sudah lama malang melintang bersama Imam Pras Quartet. Dan entah kenapa lebih dari sekedar yakin mas Ari menggaet Tulus untuk ia dandanin secara keseluruhan, aransemen lagu, produser hingga sesekali menabuh drum untuknya.
Seistimewa apakah Tulus ini hingga Anto the Antruefunk pun ikut bergabung dengannya, ini ada satu video sebelum dia membuat album. Mungkin ini titik penemuan mas Ari yang menyeret Tulus pada sebuah proses.
Aru Lab Jazz (acara rutin kumpul-kumpul jazz bertempat di studio Aru) yang legendaris itu mewarnai cerita bermusik Tulus hingga menjadi sebuah album ciamik,tanpa judul. Hanya tertulis TULUS di sampul cdnya.
............................................................................................................................................................
Sehabis hujan di kota Bandung, mas Ari tiba-tiba saja menggiring saya bercakap-cakap tentang Tulus ini tentu saja saya mendengarnya dengan ikhlas. Karena jujur saja saya penasaran dengan dengan Tulus yang begitu ramai dibicarakan oleh teman-teman saya musisi indie asli maupun gadungan. Saya pun pernah sekali mendengar lagu Oh I Never Know-nya Tulus feat. Risa Saraswati. Nih video livenya yang super kece:
Setelah mas Ari kasih cd itu cuma-cuma sama saya, langsung saya dengarkan 4 kali berturut-turut. Ada 10 track manis yang cukup kadarnya, tidak terlalu kemanisan ataupun kurang manis. Porsinya pas, hingga saya tidak bertemu bosan saat mengulangnya terus menerus.
Merdu Untukmu (intro)
track 1
Appertizer yang menggigit berdurasi 01.05
Teman Pesta
track 2
Mengambil ambience 80an namun dengan suaranya yang tidak bisa terlalu melengking, aura fariz Rm dan Chrisye yang saya inginkan dari pertama intro lagu ini dimulai, sama sekali tidak ditemukan. Tulus membangun sendiri suasana groove. Dengan karakternya yang kuat.
Kisah Sebentar
track 3
Bossanova dihadirkan begitu riang dengan beberapa pattern piano penuh kejutan. Ada suasana semi glam ala era Frank Sinatra, dibalut brass section yang baur. Di lagu ini terasa sekali Tulus mencoba melebarkan range suaranya, tapi sayang masih pada comfort zonenya. Belum ada suara-suara melengking beresiko.
Sewindu
track 4
Pop manis yang tetap tidak melepas atribut musik jazz yang dinamis. Saya suka dengan kata-katanya yang sederhana dan mudah dicerna seperti meneguk teh manis hangat selepas hujan menanti jemputan pacar. Lucunya lagu ini ternyata lagu sedih. Tidak semua nada riang bermakna senang.
Diorama
track 5
Salah satu lagu favorit saya. FAVORIT!
Aku patung mereka patung. Cangkir kaku teh hangat namun kaku dan dingin. Meja-meja kayu mengkilap. Wajahmu dibasahi airmata yang dilukis.
Kamu sehat, Tulus?
Kata-katamu di lagu ini SAKIT! Ini salah satu lirik berbahasa Indonesia terbaik yang pernah saya temui.
Tuan Nona Kesepian
track 6
Lagu favorit kedua, penuh gimmick dan serupa anekdot. Lirik-liriknya berima dan mudah dihafal. Tentunya masih sangat Tulus sekali. Dia mampu menunjukkan karakter tanpa membenalukan dirinya mirip dengan ini atau itu. Ya, walau sedikitlah suaramu mirip Mike Mohede. Tapi sedikit.
Jatuh Cinta
track 7
Lagu paling romantis di album ini. Yah sebenarnya saya yakin Tulus itu romantis. Kata-katanya mengalir tanpa banyak pikir, karena dia menjadi dirinya apa adanya.
Teman Hidup
track 8
Makin mantap saya bilang Tulus penulis lagu yang baik, kata-kata yang sebenarnya biasa saja bisa dia poles dengan luar biasa. Wow, saya terlalu berlebihankah? Tidak! Karena saya mengerti betapa sulitnya membuat lirik baik seimbang dengan musik apik. Itu sulit bukan main.
Sewindu
track 9
Rhodes version
Complete theme for a best sad song i ever had.
Merdu Untukmu
track 10
Kuingin bernyanyi melekat di telingamu / Bingkai seisi semesta / Semua yang bisa bercerita / Kuingin brnyanyi melekat di dalam hatimu / Bingkai beragam nada / Agar semua merdu untukmu / Merdu untukmu /
Terimakasih Tulus kamu keren. Saya kecewa, buat apa kamu bikin album pertama terlalu bagus, saya khawatir kamu kehabisan gimmick untuk album kedua, ketiga, dan seterusnya-seterusnya.
Pfth kekhawatiran omongkosong dari penggemar tiba-tibamu. Good idea, good music, good words. Congrats.
Kamu suka Tulus seperti saya menyukainya, come and klik www.musiktulus.com
Sumber foto: musiktulus.com
Awal Nyemplung di #BincangMinggu
Hai teman, saya hobi sekali berkicau di Twitter tapi tidak mau mengkategorikan diri dengan menyampah karena kicauan itu adalah hasil pemikiran manusia. Wuopo ikiiii…
Oleh karena hobi aneh itu saya memutuskan untuk mengembangkan diri dengan berkicau tentang hal yang sangat suka. Musik.
Saya menyukai musik karena tidak bisa bermain alat musik, hanya sekedar penikmat dan mengamati. Dari kecil saya senang memakan pita kaset album Michael Frank bapak saya lalu saya ulir dan lilit di tubuh. Mungkin dari sinilah awal cerita mengapa saya begitu tertarik dalam berbagai hal mengenai musik. Entah itu aliran musik, manajemen artis, pementasan, alat musik, sejarah musik hingga attitude musisi.
Saya mulai nyemplung ke industri musik sendiri sekitar tahun 2001, pertama kali menjadi seorang penyiar di sebuah radio di Tasikmalaya. Namun, bapak tidak mengijinkan saya untuk hanya mendengarkan satu jenis musik saja. Beliau memberi saya gambaran mengenai punk, rock dan jazz. Ajaibnya saya tidak tahu apa saja yang dicekokin ayah saya. Hanya mendengar dan menikmati. Seingat saya Selena Jones, Chick Corea, Bob James, Bubi Chen, Jack Lesmana, Harry Mukti, Sex Pistol, Robert Plant dkk.
Sampai di tahun 2006 saya bekerja di Score Music Bandung sebagai Entertainment Programmer dan iseng-iseng suka bantu-bantu Radio Prambors event off-air. Lalu berlanjut dengan posisi sama di Soho Music Bandung Jakarta, kerjaannya komentarin band dan seleksi mereka cocok ngga manggung di sini. Hahahah menyenangkan sih bagi saya.
Setelah lulus kuliah saya menjadi manager Angsa dan Serigala cuma setahun setengah saja, dilanjut ke 70s Orgasm Club hanya seumur jagung saja karena saya harus ke Jakarta untuk bekerja di sebuah radio di Jakarta Timur bernama MD Radio. Ga betah di sana, saya balik ke Bandung sambil jadi presenter acara music di Bandung TV nama acaranya PILOKS, pilihan lagu ter-oks. Lucu deh formatnya, betah sampai setahunan terus berhenti dan training di Auto Radio. Gemes dengan playlist lagunya yang itu-itu saja, saya mengajukan diri untuk menjadi asisten Music Director di sana. Tiap hari Rabu saya keliling label untuk mendapatkan lagu new entry. Whoa, sedikitnya menyimak peta penyebaran music komersil di Indonesia. Ya gitu di tiap radio day disuguhin ina ini inu di tiap label. Dan tahun kemarin, 2011 saya keterima jadi broadcaster MRA ditempatin di Trax FM dan hanya bertahan selama masa training 6 bulan saja, entahlah mengapa, mungkin karena saya ga pandai berbahasa Inggris.
Setelah itu berkenalan dengan Levi The Fly melalui sahabat saya Atri, dipercaya memanageri Ecoutez kurang lebih 7 bulan sampai akhirnya saya memilih untuk kerja di SalingSilang.com. Sempat saat memegang Ecoutez saya bantu-bantu manajemen Float juga.
Ga Cuma di manajemennya, di tahun 2005 saya memiliki band akustik jazz bareng teman-teman yang aktif di Rumah Musik Harry Roeslie namanya Novan, gonta ganti aliran sampai rock alternative ga masuk juga. Akhirnya saya gabung di Beethoven From Stereo selama 3 tahun. Sumpah suara saya butut banget tapi sangat suka nyanyi, saya les privat sama seorang pria Ambon baik hati bernama Bung Victor, nafas mulai lumayan ga bengek lagi. Lalu lanjut les di Bung Vence Manuhutu.
Intinya saya sangat mencintai musik tapi saya tidak tahu bisa mebuat apa untuk musik itu sendiri. Yang saya bisa hanya mengapresiasinya dengan membaca sejarah, mencari tahu apa yang menarik, menonton konser dan mengamati peta perkembangannya. Lalu, melalui media sosial Twitter saya mencoba untuk membuat #BincangMinggu, setiap akhir pekan, saatnya kita bicara musik.
Salam musik.
Sumber foto: Jodhy Pamungkas
Oleh karena hobi aneh itu saya memutuskan untuk mengembangkan diri dengan berkicau tentang hal yang sangat suka. Musik.
Saya menyukai musik karena tidak bisa bermain alat musik, hanya sekedar penikmat dan mengamati. Dari kecil saya senang memakan pita kaset album Michael Frank bapak saya lalu saya ulir dan lilit di tubuh. Mungkin dari sinilah awal cerita mengapa saya begitu tertarik dalam berbagai hal mengenai musik. Entah itu aliran musik, manajemen artis, pementasan, alat musik, sejarah musik hingga attitude musisi.
Saya mulai nyemplung ke industri musik sendiri sekitar tahun 2001, pertama kali menjadi seorang penyiar di sebuah radio di Tasikmalaya. Namun, bapak tidak mengijinkan saya untuk hanya mendengarkan satu jenis musik saja. Beliau memberi saya gambaran mengenai punk, rock dan jazz. Ajaibnya saya tidak tahu apa saja yang dicekokin ayah saya. Hanya mendengar dan menikmati. Seingat saya Selena Jones, Chick Corea, Bob James, Bubi Chen, Jack Lesmana, Harry Mukti, Sex Pistol, Robert Plant dkk.
Sampai di tahun 2006 saya bekerja di Score Music Bandung sebagai Entertainment Programmer dan iseng-iseng suka bantu-bantu Radio Prambors event off-air. Lalu berlanjut dengan posisi sama di Soho Music Bandung Jakarta, kerjaannya komentarin band dan seleksi mereka cocok ngga manggung di sini. Hahahah menyenangkan sih bagi saya.
Setelah lulus kuliah saya menjadi manager Angsa dan Serigala cuma setahun setengah saja, dilanjut ke 70s Orgasm Club hanya seumur jagung saja karena saya harus ke Jakarta untuk bekerja di sebuah radio di Jakarta Timur bernama MD Radio. Ga betah di sana, saya balik ke Bandung sambil jadi presenter acara music di Bandung TV nama acaranya PILOKS, pilihan lagu ter-oks. Lucu deh formatnya, betah sampai setahunan terus berhenti dan training di Auto Radio. Gemes dengan playlist lagunya yang itu-itu saja, saya mengajukan diri untuk menjadi asisten Music Director di sana. Tiap hari Rabu saya keliling label untuk mendapatkan lagu new entry. Whoa, sedikitnya menyimak peta penyebaran music komersil di Indonesia. Ya gitu di tiap radio day disuguhin ina ini inu di tiap label. Dan tahun kemarin, 2011 saya keterima jadi broadcaster MRA ditempatin di Trax FM dan hanya bertahan selama masa training 6 bulan saja, entahlah mengapa, mungkin karena saya ga pandai berbahasa Inggris.
Setelah itu berkenalan dengan Levi The Fly melalui sahabat saya Atri, dipercaya memanageri Ecoutez kurang lebih 7 bulan sampai akhirnya saya memilih untuk kerja di SalingSilang.com. Sempat saat memegang Ecoutez saya bantu-bantu manajemen Float juga.
Ga Cuma di manajemennya, di tahun 2005 saya memiliki band akustik jazz bareng teman-teman yang aktif di Rumah Musik Harry Roeslie namanya Novan, gonta ganti aliran sampai rock alternative ga masuk juga. Akhirnya saya gabung di Beethoven From Stereo selama 3 tahun. Sumpah suara saya butut banget tapi sangat suka nyanyi, saya les privat sama seorang pria Ambon baik hati bernama Bung Victor, nafas mulai lumayan ga bengek lagi. Lalu lanjut les di Bung Vence Manuhutu.
Intinya saya sangat mencintai musik tapi saya tidak tahu bisa mebuat apa untuk musik itu sendiri. Yang saya bisa hanya mengapresiasinya dengan membaca sejarah, mencari tahu apa yang menarik, menonton konser dan mengamati peta perkembangannya. Lalu, melalui media sosial Twitter saya mencoba untuk membuat #BincangMinggu, setiap akhir pekan, saatnya kita bicara musik.
Salam musik.
Sumber foto: Jodhy Pamungkas
Saturday, 21 April 2012
VRC-The XX
Ini adalah lagu paling keren dari The XX. Pertama kali jatuh cinta sama The XX ya gara-gara lagu ini dan liriknya yang nyelekit. Lo, cobain deh dengerin ini sambil baca liriknya, tapi lo harus abis diputusin.
You used to have all the answers
And you, you still have them too
And we, we live half in the daytime
And we, we live half at night
Watch things on vcrs
With me and talk about big love
I think we're superstars
You say you think we are the best thing
And you, you just know
You just do
I wanna find myself by the sea
In anothers company
By the sea
I wanna go out to the pier
I'm gonna dive and have no fear
Cos you, you just know
You just do
Watch things on vcrs
With me and talk about big love
I think we're superstars
You say you think we are the best thing
And you, you just know
You just do
Dia Bukan Anggota The Brandals
Dia bukan anggota The Brandals, tapi dia Berandalan Malam. Luky Annash album, 180derajat. Perfecto! Album ini juara. Gue ga berlebihan, mungkin lebih baik gue kasih paparan terperinci aja yah, daripada dituduh subjektif.
Dari packaging albumnya, Luki ngajak kita mikir, ini maksud covernya apa? Jungkir balik gini! Dari liriknya dia mau protes tentang realita. Dari sisi lirik, dia ga berusaha rhyming tapi karena pemilihan diksinya yang jenius, dia pintar bawa ironi jadi rangkaian kalimat satir. Banyak yang ironi di negeri ini, memutarbalikan fakta sudah jadi kegemaran, drama pun dinikmati dengan biasa saja.
Lucky merefleksikannya. Aransemen musiknya berani beda, dia tahu banget letak kelebihannya, melodi yang dia kasih nyawa. Bikin setiap lagu seperti bicara suatu misi. Distorsi-distorsi yang tumbuh di setiap lagu sukses bikin nganga, karena liar dan berdiri sendiri. Selamat Lucky Annash, bereproduksilah berkali-kali hingga gusar. Gue yang pertama ngasih doa panjang buat semua proses kreatif ini. Kamu, satu dari seperseribu anak muda yang membuat musik untuk damai. Mendamaikan diri dengan berkarya, bukan berprasangka.
Tentang Love Life Wisdom
LLW Love Life Wisdom atau Lesmana, Likumahuwa, Winarta. Thats amazing jazz album ever. Mengingatkan saya pada sebuah album kuning berdebu, perkawinan antara Jack Lesmana, Bubi Chen, album Jazz Masa Lalu dan Masa Kini, dimana Indra Lesmana hanya menjadi bintang tamu di salah satu lagunya.
Lagu pertama, Back Into Sumthin, nada propaganda. Indra Lesmana memberikan leading apik, disambut saut-sautan Barry dan Sandi. Jammin yang unik. Ada sentuhan nuansa folk ringan yang menenangkan.
Stretch and Pause, seperti acid jazz yang menyatukan looping cantik dan balutan elektro magis yang pas. Good job for Dana Boogiemen, DJ Cream dan Indra Aziz.
Bila anda pernah datang ke #mostlyjazz-nya Indra Lesmana, you can feel it, this album seems like a gig. Full jammin and improving.
Smooth Over The Rough, melodi yang sangat smooth, dan Indra Lesmana dengan jeniusnya memberi suasana urban edgy yang berani di lagu ini.
Tapi ada satu hal yang kemudian berbeda ini percampuran antara jazz mainstream dengan percikan nuansa kontemporer.
Semangat membara terdengar jelas di beberapa bagian, Sandy Winarta di Friday Call, liar sekali dia, improvisasi pattern melipir kanan kiri. Di lagu ini dia punya dunia sendiri.
The result was sensational. Dira Sugandhi diggin the blue. Whoa, only one word for Love Life Wisdom song, AWESOME! With the phenomenal breakthrough you got suprised song, Love Life Wisdom extended! Haahahaha, masih Dira Sugandi loh.
Yeay, 7 songs from the Love Life Wisdom. Still remaining, enjoy it and dying to a eargasm sensation. Congrats!
Subscribe to:
Posts (Atom)


